Home / Artikel / #DIFABLEBEKERJA / Setelah Fanny Evrita Dipecat Lantaran Tak Bisa Kenakan Rok Pendek

Setelah Fanny Evrita Dipecat Lantaran Tak Bisa Kenakan Rok Pendek

by angkie yudistia Jumat, 12 May 2017 00:40 1581 - #DIFABLEBEKERJA

bg-reg

http://www.wanitaindonesia.co.id/index.php?view=viewarticle&id=17050037

 

Wajahnya cantik, dandanannya pun modis dengan rok panjang menjuntai menyentuh lantai. Sekilas Fanny Evrita terlihat sempurna. Maka tak sedikit orang mengernyitkan dahi penuh tanya ketika ia menyebut dirinya difablepreneur (difabel pengusaha). Dimana difabelnya? Jika ditanya begini, barulah Fanny sedikit menyibak rok panjangnya. 

 

Dengan begitu terlihatlah kaki kirinya yang sangat besar dari pinggul hingga telapak kaki. Ada beberapa tulang menonjol seperti pada bagian dengkul, selebihnya nampak seperti gumpalan lemak yang sangat banyak dan panjang.

Di telapak kaki, tinggi lemak itu bahkan menyerupai wedges 10 cm. Karena itu Fanny Evrita mengimbanginya dengan sandal atau sepatu berhak tinggi pada kaki kanannya. Sementara kaki kiri ia biarkan tanpa alas apapun.

Kalau berjalan di aspal bagaimana? ”Ya kepanasan,” jawabnya seraya mengembangkan senyum manis. Begitulah Fanny, selalu ingin memperlihatkan senyum pada setiap orang yang dijumpainya meski kadang dalam hati menangis.

Berbincang usai menjadi salah satu narasumber dalam sebuah talkshow tentang Kartini Digital yang diselenggarakan Elevania, Fanny mengaku butuh proses panjang untuk menjadi dirinya yang sekarang.

Terlahir dengan kaki berbeda ukuran, Fanny sempat menjalani operasi di sebuah rumah sakit di Jakarta. Entah karena ditangani para dokter koas yang tentu masih banyak kekurangan atau ada faktor lain, jahitannya terbuka saat ia pulang ke Sintang, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang harus ditempuh selama 12 jam perjalanan darat dari Pontianak.

Bingung mengalkulasi dana yang harus dikeluarkan jika harus kembali ke Jakarta, Fanny dibawa ke rumah sakit daerah terdekat. Tak ada perubahan, kaki kirinya terus membesar hingga tiga kali lipat kaki kanannnya.  

”Awalnya masih berbentuk kaki, tidak sebesar ini sampai pinggul, membuat beratku mencapai 68 kg. Kalau lihat postur tubuhku nggak mungkin kan rasanya?” tanya Fanny. 

Fanny bercerita, rontgen yang dilakukan saat ia kecil menunjukkan tulang kaki kirinya lebih besar. Secara hormonal perkembangannya juga lebih cepat.

”Pertumbuhan akan terhenti saat seseorang berusia 25 tahun. Jadi semoga ini sudah stop, tidak tumbuh lagi. Karena memang aku tidak pernah melakukan medical check up. Kenapa? Selain karena aku sudah nyaman dengan kondisi ini, check up untuk kondisi sepertiku biayanya nggak murah,” tutur Fanny.

Mungkin ia akan melakukannya suatu saat nanti setelah usaha perawatan kecatikan yang sedang dirintisnya bersama Thisable Enterprise berhasil. “Doakan ya,” pintanya.

Kenyang Bully Sejak Kecil

Dengan kondisi fisiknya itu Fanny harus berkompromi dengan bully-an sejak masuk Taman Kanak-kanak. Ini sempat membuatnya mogok, tak mau bersekolah.

”Mungkin karena di rumah aku diperlakukan sama, tanpa diskriminasi dan ejekan. Jadi ketika ada yang mengataiku kaki gajah dan bertanya dengan nada mengejek, ’Sepatu kaki kirimu mana?’ sempat membuatku drop. Tiba di rumah aku lempar sepatu dan tidak mau sekolah lagi. Karena waktu itu sekolahku di sebuah yayasan, jadi dari TK-SMA jadi satu,” kisahnya.

Untuk mengatasinya, Fanny disarankan masuk SD di sekolah negeri dekat rumah neneknya dari pihak ibu. Lokasinya jauh di pelosok. Karena itu ia harus tinggal bersama neneknya. ”Bullytetap ada, tapi aku menemukan teman-teman yang baik dan mendukung,” syukurnya.

Di sekolah ini keberanian Fanny mulai tertempa. Apalagi ia selalu mengingat pesan keluarganya, melawan saat di-bully. ”Kalau ada yang menghina kondisiku aku lebih garang dari mereka. Sampai akhirnya pernah dipanggil karena berkelahi sama teman,” ceritanya tergelak.

Selebihnya, para guru tak pernah membedakan apalagi mendiskriminasi keberadaan Fanny. Saat olahraga lari misalnya, ia diperbolehkan ikut. Pesan gurunya, Fanny memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Kalau capek boleh berhenti. 

”Cara lain menangkal bully adalah dengan berusaha berprestasi. Makanya aku rajin belajar. Mama juga berpesan agar aku menunjukkan kelebihan. Hasilnya dari SD sampai SMA aku selalu masuk tiga besar. Aku juga rajin mewakili sekolah dalam berbagai lomba. Sampai akhirnya bisa masuk kuliah dengan beasiswa. Wah, yang namanya mendapat beasiswa di tempatku prestasi luar biasa,” ungkap Fanny tak dapat menutupi rasa bangganya.

Terbiasa bekerja keras dan mengukir prestasi, Fanny tumbuh menjadi wanita mandiri yang tak mau dikasihani. ”Untungnya keluarga tidak pernah membedakanku dengan anak-anak yang lain. Jadi aku tetap dibolehkan latihan nyetir motor dan mobil. Pernah lho aku nyetir mobil dari Pontianak tempat aku ngekost saat kuliah sampai Sintang,” kisahnya. 

Fanny juga gigih untuk mandiri secara ekonomi. Karenanya sejak kuliah S1 di Universitas Tanjung Pura, ia mencoba berbagai cara untuk menghasilkan uang. Ia pernah menjadi re sellerproduk fesyen dari Jakarta.

”Dalam seminggu bisa dapat uang sejutaan rupiah. Nilai yang besar untuk anak kuliah di daerah pada masa itu. Tapi makin lama persaingan makin berat, tersingkir deh,” sesalnya.

Di akhir masa kuliah, Fanny bekerja di sebuah perusahaan finansial. Demi penghasilan lebih baik, setelah lulus di awal tahun 2012, ia kemudian melamar ke sebuah bank. Saat diterima, Fanny senang tak kepalang.

Dengan harapan pekerjaannya terus berlanjut, Fanny menyisihkan sebagian pendapatannya untuk melanjutkan kuliah S2. Ibunya memang selalu mendorong Fanny dan kakak adiknya untuk sekolah setinggi-tingginya.

Namun malang, saat habis masa percobaan yang artinya ia akan diangkat sebagai karyawan tetap, Fanny justru dipecat! Alasannya, perusahaan tidak dapat mengizinkannya mengenakan rok panjang.  

”Segitunya ya diskriminasi terhadap karyawan difabel. Saat itu memang belum ada jaminan kuat dari UU, baru disahkan tahun 2016. Peristiwa ini membuatku down, sampai dua bulan aku nggak mau keluar rumah. Mama yang menyusul kami tinggal di Pontianak sampai bosan menyuruhku jalan-jalan atau kumpul bersama teman. Pikirku, mereka pasti akan membicarakan tentang karier, sementara aku jobless,” ujar Fanny lirih, matanya berkaca-kaca.

Saat akhirnya berani keluar rumah dan kembali melamar ke bank-bank di seluruh Pontianak, tak ada satupun yang menerima Fanny. ”Baik swasta maupun BUMN!” serunya.

”Padahal aku dapat melewati tes demi tes. Tapi begitu di akhir aku menyatakan diriku difabel, semua menolak dengan alasan kebijakan manajemen,” sesalnya dengan suara tercekat.

Dengan batin menjerit, Fanny datang ke kampus melanjutkan pendidikan S2 yang memasuki semester 2. Tapi begitu ditanya uang semesteran, ia keder dan mundur. Tak mungkin ia meminta pertolongan pada ibundanya yang membanting tulang seorang diri sejak bercerai dari ayahnya.

”Ya, saat aku SMP mereka memutuskan untuk berpisah. Mama harus bekerja keras untuk menghidupi dan menyekolahkan kami, 3 anaknya. Saat aku dipecat itu, kondisi pekerjaannya juga sedang tidak bagus,” kisah Fanny.

Tentang perceraian ayah dan ibunya, Fanny bilang sempat menimbulkan luka lain di hatinya. Ia minder dan sedih setiap kali masa pembagian raport hanya kakeknya yang hadir mewakili mereka. ”Aku dosa apa ya? Sudah aku disabilitas orang tuaku cerai pula,” Fanny menirukan jerit hatinya kala itu sembari menyeka air mata. 

”Duh jadi melo (melankolis, red.) kan kalau membahas yang begini,” imbuhnya mencoba tersenyum.

Memulai di Ibu Kota

Mendapatkan pemecatan dan penolakan dari berbagai bank, Fanny kerap menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. Seperti kaum muda kebanyakan, ia juga penggemar sosial media. Ia kerap terpukau dengan kisah sukses banyak orang.

Hingga suatu ketika ia menyaksikan dan membaca kiprah Chef Petty Elliot yang mendirikan dan aktif di sebuah wisma disabilitas. ”Aku memberanikan diri mengirim email dan curhat panjang lebar tentang kondisiku. Puji Tuhan Ibu Petty segera membalas dan memintaku ke Jakarta!” serunya senang.

Meski begitu Fanny sempat galau, mampukah ia bertahan di belantara Ibu Kota yang kerap diistilahkan lebih kejam dari ibu tiri? Apalagi tak ada sanak kerabatnya di tempat ini.

Setelah berdiskusi panjang dengan ibunya, Fanny mantap merantau ke Jakarta. Langkah pertamanya adalah menjumpai Chef Petty dan mencari kost.

”Sebenarnya di wisma Chesier ada tempat tinggal, tapi jelas kondisinya berbeda. Lebih mudah karena fasilitas untuk difabel tersedia. Sementara aku ingin menjalani kehidupan di tengah masyarakat umum dengan segala tantangannya,” tekad Fanny.

Mengawali pekerjaan di bidang finansial di Wisma Chesier Fanny nge-kost di salah satu sudut Jakarta. Sangat sederhana, bahkan kamar mandinya di luar.

“Di kost kadang aku pakai rok pendek karena panas. Nah saat ke toilet, pasti ada tatapan aneh, bahkan bisik-bisik. Terusik, tapi aku mencoba cuek. Memang kondisiku begini kok,” katanya santai.*

Teks: Kristina Rahayu Lestari   I   Foto: Muhamad Nur Ridho, Dok. Pri

 





0 Comment




Welcome to the community

ThisAble Enterprise telah berdiri selama lebih dari 8 tahun sebagai perusahaan yang memiliki fokus untuk mengatasi masalah sosial melalui pemberdayaan masyarakat dan menjadi support system bagi penyandang disabilitas di Indonesia.
  161
  23/04/2017

Top Member

angkie yudistia

2

NEWSLETTER